perekonomian indonesia

Just another WordPress.com weblog

Kebijakan Fiskal

Posted by ekodedypurnomo pada Januari 30, 2007

Kebijakan Fiskal

Politik fiskal yang efektif perlu dilaksanakan di negara-negara sedang berkembang. Politik ini berhubungan dengan penerimaan dan pengeluaran negara, dan mempunyai 3 pengaruh penting untuk perkembangan ekonomi yaitu:

-         Dapat mempengaruhi pendapatan.

-         Memajukan akumulasi kapital.

-         Menahan inflasi dan deflasi.

Pengeluaran pemerintah untuk suatu sektor tertentu akan menarik faktor-faktor produksi di sektor itu. Sedangkan pajak yang dikenakan pada sektor tertentu akan menghalangi mengalirnya faktor-faktor tersebut kesektor itu. Karena proses yang demikian, maka pola penerimaan dan pengeluaran pemerintah akan mempengaruhi alokasi faktor-faktor produksi. Pajak akan membatasi tumbuhnya industri dan sebaliknya subsidi akan mendorong berkembangnya industri-industri.

Misalnya dilaksanakan pengeluaran pemerintah untuk suatu sektor tertentu, maka orang-orang akan tertarik pada sektor tersebut dan menambah mobilitas antar pekerjaan. Produktivitas naik dan pendapatan naik. Sebaliknya pajak yang berat terhadap pendapatan yang tinggi untuk nantinya diberikan kepada mereka yang berpendapatan rendah, mengurangi perbedaan pendapatan yang menyolok. Persoalan yang lebih  pokok di negara belum maju adalah kurangnya kapital dan kurang efisiennya penggunaan faktor-faktor produksi. Bukan distribusi pendapatan yang tidak merata yang menyebabkan rendahnya pendapatan perkapita di negara belum maju, melainkan pada dasarnya adalah karena pendapatan nasional yang rendah karena kurang efisien dalam penggunaan foktor-faktor produksi.

Seperti diketahui kapital dapat dibentuk dengan investasi swasta dengan melalui tabungan sukarela, penciptaan kredit, menarik masuknya investasi asing atau investasi pemerintah yang dibiayai dari pajak dan pinjaman pemerintah.

Tabungan sukarela dapat naik jika output nasional naik. Ini berarti tidak dapat diharapkan segera terjadi dan investasi asing juga tidak banyak dapat diharapkan. Oleh karena itu pemerintah dalam jangka pendek perlu menyediakan kapital. Untuk ini pemerintah perlu menaikkan pajak atau dengan cara anggaran yang defisit (defisit financing) melalui defisit Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara.

Namun pembentukan kapital dengan defisit anggaran belanja ini memudahkan timbulnya inflasi, karena dinegara sedang berkembang hasrat untuk konsumsi sangat tinggi, dan banyak terdapat ketidaksempurnaan pasar. Sedikit kelebihan kapasitas di pabrik-pabrik dan alat-alat yang ada, serta elastisitas permintaan permintaan terhadap bahan makanan sangatlah rendah.

Karena itu dinegara belum maju anggaran yang defisit hanya menaikkan output dalam jumlah kecil bila dibanding dengan di negara sudah maju. Karena itu harus dipertimbangkan kerugian-kerugian lain yang disebabkan oleh inflasi, apabila inflasi dimaksudkan sebagai alat untuk membangun.

Untuk menguasai inflasi pemerintah menaikkan pajak, dan rencana-rencana pembiayaan pembangunan harus didasarkan pada efektifitas pemasukan pajak tersebut. Dengan pajak maka pemerintah dapat mengatur sumber-sumber pembentukan kapital. Juga kenaikkan pajak akan mengurangi konsumsi atau menghalangi meningkatnya konsumsi ketika pendapatan naik, sehingga pemerintah dapat menyalurkan dana itu ke sektor-sektor yang lebih produktif.

Dana-dana yang dikumpulkan lewat pajak dapat dipinjamkan ke sektor swasta. Ini terutama dilakukan di Amerika latin. Jadi pemerintah melakukan tabungan paksaan (force saving), sedangkan investasi dapat dilakukan pemerintah, swasta atau kedua-duanya bersama-sama. Pokok politik pajak harus ditujukan atau diarahkan usaha memperbesar tabungan dan mobilisasi tabungan ke investasi yang produktif dan menyalurkannya kearah yang terbaik dalam program pembangunan.

Meskipun dengan anggaran belanja seimbang tapi toh bahaya inflasi tetap ada, yaitu bila investasi swasta ditambah eksport melebihi tabungan swasta ditambah import atau (I + X) > (S+M), dan tidak ada kenaikkan yang pararel dalam output, maka hal ini dapat menimbulkan inflasi. Dalam hal ini politik fiskal bersama-sama dengan politik moneter harus digunakan untuk menanggulangi inflasi.

Kebijakan fiskal punya peranan penting dalam pembangunan ekonomi, tetapi berhasil atau tidaknya tergantung pada perbaikan-perbaikan sistem perpajakan dan pelaksanaannya. Misalnya tarif pajak hendak dinaikkan, tetapi pelaksanaannya masih sukar, karena kurang efisiennya metode pengumpulan pajak atau karena faktor lain, sehingga tak banyak hasilnya.

Sebenarnya sebelum diadakan kenaikan tarif pajak hendaknya perlu dipertimbangkan faktor-faktor yaitu antara lain:

-         Bagaimana pengaruhnya terhadap produksi secara keseluruhan melalui dorongan untuk bekerja.

-         Investasi dan menabung.

-         Bagaimana pengaruhnya terhadap struktur produksi dalam perekonomian.

-         Bagaiman pengaruh pajak yang baru itu terhadap distribusi pendapatan dan kekayaan apakah administrasinya mampu menjalankan sistem pajak baru tersebut.

Penerimaan pajak di negara belum maju tak dapat diharapkan besar jumlahnya karena pendapatan mereka kebanyakan pada tingkat yang subsisten, tidak ada catatan-catatan mengenai besarnya pendapatan masing-masing wajib pajak, sehingga menentukan besarnya pajak bagi masing-masing wajib pajak tersebut cukuplah sukar. Pelaksanaan pemungutan pajak belum efisien. Oleh karena itu sumber penerimaan negara yang besar bukan dari pajak pendapatan dan lain-lain pajak langsung melainkan berasal dari pajak-pajak tak langsung seperti pajak penjualan, cukai, dan sebagainya.

Misalnya spekulasi untuk tidak rugi, maka uangnya dibelikan mobil. Untuk menghindari pembelian-pembelian spekulasi ini maka balik nama mobil dikenai pajak yang berat. Demikian pula pajak progresif akan sangat baik diterapkan pada sektor pertanian dan makin luas tanah yang dimiliki makin tinggi pajaknya.

Adanya pajak-pajak tidak langsung seperti pajak penjualan dimaksudkan untuk mengurangi konsumsi, tetapi keburukannya adalah menaikkan harga dan biaya hidup. Karena itu pajak tidak dikenakan pada semua barang, tetapi seharusnya  terbatas pada barang-barang mewah saja.

Sedangkan politik kredit selektif dimaksud untuk mempengaruhi alokasi sumber-sumber produksi dengan cara penyaluran tabungan-tabungan ke sektor-sektor produktif. Politik moneter ini dapat pula mempengaruhi bentuk-bentuk investasi yang akan dilaksanakan.

Di negara-negara belum maju Bank-bank Umum hanya menyediakan kredit jangka pendek dan ini terutama untuk pembelian perlengkapan, pembelian tanah dan pembayaran produksi untuk eksport. Bank kurang bersedia memberikan kredit jangka panjang dan sedang, sehingga dana untuk pembelian bahan dasar bagi pabrik-pabrik sangat terbatas.

Cara-cara lain ialah pinjaman diberikan bersama-sama baik dari sumber swasta maupun dari negara untuk suatu usaha tertentu. Karena seringkali sulit mendapatkan kredit dari bank, maka daerah pedesaan petani sangat tergantung pada pemerintah daerah atau pedagang-pedagang yang kadang-kadang punya kedudukan monopoli. Kedudukan antara peminjam dan yang meminjamkan itu jauh berbeda sehingga sangat memberatkan peminjam karena tidak jarang tingkat bunga sangat tinggi (antara 10%-30%) per-bulan.

Guna menghindari keadaan keadaan yang menyedihkan didaerah pedesaan, maka pemerintah perlu campur tangan dan mendorong berdirinya koperasi-koperasi kredit atau koperasi simpan pinjam. Koperasi kredit disini tidak tidak saja memberi pinjaman uang, tetapi juga dapat membantu anggota. Hal ini telah berhasil di Ceylon, Mesir, Turki, Caribia.

Dikatakan bahwa kebijakan moneter dengan mengadakan kredit selektif untuk mempengaruhi pola investasi dan produksi, maksudnya untuk membedakan antara biaya dan ketersediaan kredit di sektor-sektor yang berbeda-beda. Misalnya dengan sedikit-banyaknya kredit yang diberikan, tingkat bunga yang berbeda, lamanya pinjaman dan lain-lain. Bank Sentral dapat pula mengawasi Bank-bank Umum untuk mempengaruhi tipe-tipe investasi, misalnya dengan tinkat bunga diskonto berbeda-beda menurut tipe pinjaman yang bersangkutan. Kebijakan moneter dalam peranannya sebagai alat pembentuk kapital merupakan kebijakan sekunder setelah kebijakan fiskal. Dengan kebijakan uang mudah (easy money policy) kredit dapat diperluas, tetapi kredit inipun tidak bisa digunakan kecuali bila harapan-harapan mendapat keuntungan cukup tinggi.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Ujian Kehidupan

Posted by ekodedypurnomo pada Januari 30, 2007

po.JPG

Ujian Kehidupan

Dalam menjalani kehidupan, manusia selalu menghadapi dua keadaan yang saling bergantian. Suatu ketika merasakan duka, pada saat lain bertukar dengan suka. Pada saat duka seringkali manusia berkeluh kesah, seolah penderitaan tiada berakhir. Sebaliknya, jika ia merasakan kebahagiaan, menjadi lupa. “Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, bila ia mendapat kebaikan dia menjadi kikir.” (QS Al-Ma’arij [70]; 20-21). Ujian merupakan alat ukur keimanan dan ketakwaan seseorang, sampai di mana taraf keimanan dan ketakwaannya kepada Alaah SWT.

“Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.”(QS Al-Mulk [67];1-2)

Perasaan senag karena mendapatkan suatu karunia, baik berupa harta, pangkat, jabatan, anak, prestasi, aatau prestise, juga salah satu ujian. Janganlah kita menjadi lupa bahwa karunia tersebut merupakan anugerah dari Yang Maha Penyayang, karena saat kita hadir di dunia tiada mempunyai apa-apa, baik ilmu apalagi harta.

“Dan Allah mengelurakan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (QS An-Nahl [16]:78).

Keuletan, ketelitian, dan keteguhan perlu dimiliki oleh seseorang yang ingin agar hidupnya berhasil mendaptakan kebahagiaan. Selaku manusia yang beriman kepada Allah SWT ujian kehidupan sisikapi dengan tawakal, idak panik, putus asa, lupa diri yang akan berakibat bagi kestabilan jiwanya.

Menembalikan segala permasalahan kepada Allah SWT rasanya akan lebih menunjukkan bahwa memang manusia sangat membutuhkan Pertolongan-Nya, serta meyakini bahwa dibalik setiap kesulitan akan muncul kemudahan.

Bersyukur terhadap segala pemberiaan Allah SWT, banyak maupun sedikit, besar maupun kecil, akan membuat hati menjadi tenang dan tidak tergiur angan-angan. “Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin, karena segala urusan dipandang baik. Dan tidak ada keadaan yang demilian itu kecuali hanya bagi seorang Mukmin. Apabila dia merasakan kesenangan,

maka dia bersyukur, apabila merasakan kesusahan, maka dia bersabar.” (HR Muslim).

Semoga setiap menghadapi masalah kita dapat lebih sabar, arif, dan berusaha mencari solusi dengan berawakal kepada Allh SWT, sebagai bukti keimanan kepada Nya. Bukan mencari sesuatu yang tidak diRidhoi Allah SWT. Wallahu subhanallahu wata’ala ‘alam.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Permasalahan Pokok Pembangunan Ekonomi

Posted by ekodedypurnomo pada Januari 27, 2007

ok.jpgPermasalahan pokok yang dihadapi oleh negara sedang berkembang terletak pada hasil pembangunan masa lampau, dimana strategi pembangunan ekonomi yang menitikberatkan secara pembangunan dalam arti pertumbuhan ekonomi yang pesat ternyata menghadapi kekecewaan. Banyak negara dunia ketiga yang sudah mengalami petumbuhan ekonomi, tapi sedikit sekali manfaatnya terutama dalam mengatasi kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan dalam distribusi pendapatannya. Jurang si kaya dan si miskin semakin melebar. Penganggur dan setengah menganggur di desa maupun di kota semakin meningkat. Problem dari masalah kemiskinan, serta keadaan perumahan yang tidak memadai.

Ketimpangan dan ketidakmerataan serta pengangguran tidak hanya dalam kontek nasional, tetapi dalam konteks internasional yang memandang negara-negara yang sedang berkembang sebagai bagian peningkatan interdependensi (saling ketergantungan) yang sangat timpang dalam sistem ekonomi dunia. Di negara maju titik berat strategi pembangunan nampaknya ditekan untuk mengalihkan pertumbuhan menuju usaha-usaha yang menyangkut kualitas hidup. Usaha-usaha tersebut dimanifestasikan secara prinsip dalam perubahan keadaan lingkungan hidup.

Pada prinsipnya problem-problem kemiskinan dan distribusi pendapatan menjadi sama-sama penting dalam pembangunan negara tersebut. Penghapusan kemiskinan yang meluas dan pertumbuhan ketimpangan pendapatan merupakan pusat dari semua problem pembangunan yang banyak mempengaruhi strategi dan tujuan pembangunan. Oleh karena itu ahli ekonomi mengemukakan bahwa untuk perbaikan jurang pendapatan nasional hanya mungkin bila strategi pembangunan mengutamakan apa yang disebut keperluan mutlak, syarat minimum untuk memenuhi kebutuhan pokok, serta yang dinamakan kebutuhan dasar.

Pengalaman pembangunan di banyak negara dewasa ini menunjukkan, bahwa terdapat pertentangan antara gagasan dan praktek pembangunan ekonomi. Gagasan pembangunan kontemporer berpendirian, bahwa globalisasi akan selalu memberikan efek positif yang menguntungkan. Pada prakteknya itu tidak selalu terjadi. Krisis finansial yang melanda Asia Timur dan Asia Tenggara merupakan contoh ekses negatif globalisasi. Globalisasi dan pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai tidak selalu diikuti pemerataan dan keadilan sosial.

Hal ini selanjutnya membawa kita pada dilema pokok dalam gagasan pembangunan, yaitu adanya perdebatan di antara para pakar tentang strategi yang seharusnya didahulukan, antara pertumbuhan dan pembangunan. Kelompok pertama menyatakan, bahwa pertumbuhan ekonomi harus didahulukan untuk mencapai tujuan-tujuan lain dalam pembangunan. Kelompok lainnya berpendapat, bahwa bertolak dari tujuan yang sebenarnya ingin dicapai, maka aktivitas yang berkaitan langsung dengan masalah pembangunan itulah yang seharusnya didahulukan, sehingga tercapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Perdebatan ini menarik untuk diikuti karena masing-masing kelompok berpendapat dengan argumen yang kuat.

Profesor Mubyarto dan Profesor Bromley mempunyai gagasan baru dalam pembangunan, yaitu tentang pentingnya peran kelembagaan dalam pembangunan. Selama aspek kelembagaan belum diperhatikan dengan baik, maka akan sulit untuk merumuskan dan melaksanakan aktivitas pembangunan yang mendukung terwujudnya pemerataan sosial, pengurangan kemiskinan, dan usaha-usaha peningkatan kualitas hidup lainnya. Aspek kelembagaan ini berperan penting dalam meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat, khususnya masyarakat miskin, dalam memanfaatkan kesempatan ekonomi yang ada. Inovasi dalam kebijakan publik semacam ini akan senantiasa memberikan perhatian terhadap tiga hal penting, yaitu etika, hukum, dan ilmu ekonomi.

Etika menekankan pada persepsi kolektif tentang sesuatu yang dianggap baik dan adil, untuk masa kini maupun mendatang. Hukum menekankan pada penerapan kekuatan kolektif untuk melaksanakan ethical consensus yang telah disepakati. Sementara itu, ilmu ekonomi menekankan pada perhitungan untung rugi yang didasarkan pada etika dan landasan hukum suatu negara.

LambangLambangLambang

Ditulis dalam Uncategorized | 1 Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.